Putri Duta Besar (Bag 1)
Aku mengintip kedalam lewat kaca pintu kayu itu dari luar, setengah basah karena gerimis hujan yang tiba-tiba saja turun beberapa saat yang lalu. Dari antara tempelan berbagai macam kartu kredit dan tanda "OPEN" yang tergantung di pintu kaca itu aku melihat dia sudah duduk di meja pojok dengan laptop terbuka dan gelas bir yang masih setengah penuh.
"Tumben udah dateng duluan" ujarku dalam hati dan kubuka pintu kayu tua itu dengan menarik setengah paksa serta masuk kedalam membawa udara dingin bulan November dari luar bersama ku. Aku berjalan melewati meja-meja yang sudah penuh terisi oleh pelanggan resto & bar ini yang sebagian besar adalah orang-orang yang itu-itu juga sambil menyapa beberapa dari mereka. Sapaan ku lebih merupakan ekspresi sopan santun karena sebetulnya aku lebih kenal wajah mereka daripada nama. Mereka membalas menyapa tanpa menyebut namaku . Aku yakin merekapun hanya mengenal sosok ku yang sering terlihat duduk di meja pojok itu atau di meja bar yang terbuat dari kayu eboni yang permukaannya sudah sangat mengkilap dari gosokan lap bartender selama bertahun-tahun.
Barangkali hanya orang-orang tertentu saja yang kebanyakan dikenal dengan nama oleh para pengunjung tempat ini yaitu para pelayan dan bartender yang sebagian besar menjadi pekerja paruh waktu dan terdiri dari pelajar sebuah universitas yang terletak tidak jauh dari tempat ini. Diluar mereka aku rasa mayoritas pelanggan tempat ini terdiri dari wajah-wajah "familiar" tanpa nama. Sambil terus bergerak menuju meja pojok untuk menemui temanku itu aku berpikir mungkin itu sebabnya aku menyukai tempat ini karena merasa dapat menjadi "invisible" namun pada saat yang sama masih merasa "dirumah" dengan teguran ramah dari para pekerja paruh waktu itu. "Kamu sangat tidak menarik kalo sedang seperti itu" pernah seorang teman bilang itu kepadaku mengenai ketrampilan sekaligus hobi ku untuk menjadi "invisible". Tapi tempat ini serasa menawarkan secara alami suasana untuk bisa menjaga jarak atau menghilang tanpa merasa seperti terpaksa harus melangkah keluar dari lingkaran realita sekitar untuk mengamati kehidupan nyata dari luar kedalam.
Mendekati daerah bar ruang gerak ku semakin sempit dan dengan sedikit susah payah aku ber navigasi sambil menenteng tas ransel laptop ku melewati orang-orang yang berdiri di sepanjang bar eboni itu sambil memegang gelas minuman yang kebanyakan bir hitam sesuai dengan karateristik tempat ini sebagai sebuah Irish Bar. Mendekati ujung meja bar aku tiba-tiba berhadapan dengan sebuah tangan halus yang menyodorkan kerang oyster tepat didepan hidungku. "Hey stranger...mau ngga?" menyusul suara halus si pemilik tangan yang wajahnya belum terlihat saat itu. Hidungku mencium aroma jeruk nipis yang telah disemprot kedalam rumah oyster itu dan tatapan mataku berpindah-pindah secara bergantian dari rumah kerang ke cincin batu alam Aquatis besar berwarna ungu yang melingkar di jari tengahnya dan terakit dalam cincin dengan ukiran perak Bali yang indah.....(bersambung).
Image - Cover Design South of the Border, West of the Sun by Haruki Murakami

Comments