Favorite Posts

  • A Bench and a Three Stripes Shoes
    Posted at Park Bench Society - “and by the way, I’m Shai…Shai Bastara” I introduce myself. “Merci, I’m Patna Jane” she said as she took the coffee and shakes my hand. “Cool initial…PJ. Can I call you PJ ?” I said grinning. “PJ it is…and you’re Shai, right ?” she grins back at me. “Sometimes in some situation but right now I’m not shy with you” I winked as I sip my coffee...
  • A Cup of Coffee and Sex, Please ?
    Posted at Park Bench Society - Interesting as it is about the history and heritage of coffee I do wonder now if the term “let’s go have coffee” should have a sexual implication attached to it?...
  • A Love Letter
    Posted at Park Bench Society / original post titled Surat Cinta - “You will receive the most beautifully written letter that you ever read” That is what you told me when you said good bye. I was not really listening to you...
  • Elang dan Anjing
    Posted at Park Bench Society - Berdebar jantungku begitu melihat ikon kuning muncul di sebelah kanan bawah layar monitor ku untuk kemudian hilang kembali ke balik taskbar. Sebuah ikon kecil yang menandakan kehadiran satu sosok virtual. Gokil, 5 tahun dan setiap kali ikon itu muncul masih berdebar seperti ini. Dahsyat !...
  • Mutiara Hitam
    Posted at Park Bench Society - Dia masih dalam pelukanku ketika suara motor meraung perlahan berganti menjadi …… bunyi lonceng gereja di salah satu sudut Kota Tua (Old City) di Yerusalem. Suara lonceng itu mengiringi langkah seorang pendeta muda dengan jubah hitam panjang yang berjalan cepat kearah Via Dolorosa...
  • Putri Duta Besar
    Hidungku mencium aroma jeruk nipis yang telah disemprot kedalam rumah oyster itu dan tatapan mataku berpindah-pindah secara bergantian dari rumah kerang ke cincin batu alam Aquatis besar berwarna ungu yang melingkar di jari tengahnya dan terakit dalam cincin dengan ukiran perak Bali yang indah...
  • Silent Graffiti
    Posted at Park Bench Society - Who does ?.. It's the fucking author.. Where's that bottle of ink ?.. Let me pour it all into a bowl.. Full of alphabet cereal.. And I'll take it.. As my fucking breakfast...
  • The Birth of Park Bench Society
    Posted at Park Bench Society at Blogspot - In the mean time, a few tables from us there is a good looking woman in red turtleneck sweater sitting by herself with a cup of something in front of her. She seems to use the Starbucks' chair as her own private bench...
  • The Re-Make of Pillow Talk
    Posted at Park Bench Society - SCENE 1 (A view from a window. Wet roof in a rainy afternoon. Drops of water falling from the edge of the roof into a man-made pond below. Koi fishes swim beneath the surface...)
  • Tragedi Cumi Hitam
    Posted at Park Bench Society - "Ya yang waras ngalah lah" ucapnya sambil mengaduk - aduk garpunya kedalam sepiring gado-gado. Sementara itu jari tangannya satu lagi menari-nari diatas touch pad di Power Book Mac G4 nya untuk memamerkan layout print ad yang baru dibuatnya ke teman disebelahnya...

« State of Mind | Main | Putri Duta Besar (Bag 2) »

Putri Duta Besar (Bag 1)

PutriAku mengintip kedalam lewat kaca pintu kayu itu dari luar, setengah basah karena gerimis hujan yang tiba-tiba saja turun beberapa saat yang lalu. Dari antara tempelan berbagai macam kartu kredit dan tanda "OPEN" yang tergantung di pintu kaca itu aku melihat dia sudah duduk di meja pojok dengan laptop terbuka dan gelas bir yang masih setengah penuh.

"Tumben udah dateng duluan" ujarku dalam hati dan kubuka pintu kayu tua itu dengan menarik setengah paksa serta masuk kedalam membawa udara dingin bulan November dari luar bersama ku. Aku berjalan melewati meja-meja yang sudah penuh terisi oleh pelanggan resto & bar ini yang sebagian besar adalah orang-orang yang itu-itu juga sambil menyapa beberapa dari mereka. Sapaan ku lebih merupakan ekspresi sopan santun karena sebetulnya aku lebih kenal wajah mereka daripada nama. Mereka membalas menyapa tanpa menyebut namaku . Aku yakin merekapun hanya mengenal sosok ku yang sering terlihat duduk di meja pojok itu atau di meja bar yang terbuat dari kayu eboni yang permukaannya sudah sangat mengkilap dari gosokan lap bartender selama bertahun-tahun.

Barangkali hanya orang-orang tertentu saja yang kebanyakan dikenal dengan nama oleh para pengunjung tempat ini yaitu para pelayan dan bartender yang sebagian besar menjadi pekerja paruh waktu dan terdiri dari pelajar sebuah universitas yang terletak tidak jauh dari tempat ini. Diluar mereka aku rasa mayoritas pelanggan tempat ini terdiri dari wajah-wajah "familiar" tanpa nama. Sambil terus bergerak menuju meja pojok untuk menemui temanku itu aku berpikir mungkin itu sebabnya aku menyukai tempat ini karena merasa dapat menjadi "invisible" namun pada saat yang sama masih merasa "dirumah" dengan teguran ramah dari para pekerja paruh waktu itu. "Kamu sangat tidak menarik kalo sedang seperti itu" pernah seorang teman bilang itu kepadaku mengenai ketrampilan sekaligus hobi ku untuk menjadi "invisible". Tapi tempat ini serasa menawarkan secara alami suasana untuk bisa menjaga jarak atau menghilang tanpa merasa seperti terpaksa harus melangkah keluar dari lingkaran realita sekitar untuk mengamati kehidupan nyata dari luar kedalam.

Mendekati daerah bar ruang gerak ku semakin sempit dan dengan sedikit susah payah aku ber navigasi sambil menenteng tas ransel laptop ku melewati orang-orang yang berdiri di sepanjang bar eboni itu sambil memegang gelas minuman yang kebanyakan bir hitam sesuai dengan karateristik tempat ini sebagai sebuah Irish Bar. Mendekati ujung meja bar aku tiba-tiba berhadapan dengan sebuah tangan halus yang menyodorkan kerang oyster tepat didepan hidungku. "Hey stranger...mau ngga?" menyusul suara halus si pemilik tangan yang wajahnya belum terlihat saat itu. Hidungku mencium aroma jeruk nipis yang telah disemprot kedalam rumah oyster itu dan tatapan mataku berpindah-pindah secara bergantian dari rumah kerang ke cincin batu alam Aquatis besar berwarna ungu yang melingkar di jari tengahnya dan terakit dalam cincin dengan ukiran perak Bali yang indah.....(bersambung).

Image - Cover Design South of the Border, West of the Sun by Haruki Murakami

TrackBack

TrackBack URL for this entry:
http://blogs.www.friendster.com/t/trackback/253055

Listed below are links to weblogs that reference Putri Duta Besar (Bag 1):

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .