Dua Cahaya (The Re-Make )
The Re-Make of Dua Cahaya
Saling menyambar dan terkadang bergumul dalam ikatan kilat seperti dua kabel gulung raksasa. Suara daun yang bergerak tersambar kilatan cahaya yang berterbangan diantara ranting pohon besar itu seperti orkestra yang mengiringi permainan dua cahaya tersebut.
Para daun yang menonton tersenyum dan kadang tertawa gembira menyaksikan kedua cahaya berterbangan diantara mereka. Sinar cahaya keduanya membuat hangat suasana diatas pohon besar yang rindang itu.
Sesekali terlihat salah satu dari cahaya itu berhenti terbang dan menonton cahaya yang lain terbang memutari sebuah benda merah yang bertengger di salah satu dahan besar pohon itu. Tak lama berhenti, cahaya itu kembali bergerak berputar dengan arah yang berlawanan dan setiap kali berpapasan dengan cahaya yang satu lagi terjadi percumbuan singkat seperti dua semut yang berpapasan dari dua arah yang berlawanan.
Pada akhirnya kilatan-kilatan sinar berhenti di titik temu di tengah benda merah tersebut yang tak lain adalah sebuah sofa besar yang empuk dan nyaman. Sebuah titik temu dan tempat mereka menghabiskan waktu santai diantara teduhnya rimbun daun dan sepoi angin yang setia mengunjungi pohon besar itu.
Kedua sinar itu menganguk puas bersama melihat hasil kerja mereka membersihkan sofa kesayangan mereka. Dua kilatan cahaya lalu terlihat meloncat keatas dudukan sofa dan kemudian bersatu seakan membungkus sofa itu dengan sinar terang. Tak lama setelah itu dua sinar itu berpisah dan serentak bergerak turun ke tanah bersamaan.
Dibawah pohon besar itu terlihat dua sinar cahaya yang memudar dan berganti sosok. Cahaya pertama yang sampai dibawah menjelma menjadi pengangon bebek dengan topi bercaping dan sinar yang kedua menjelma menjadi penjual jamu yang mengendong bakul penuh dengan botol-botol jamu.
Mereka bertatapan dan saling tersenyum kemudian bergerak menuju arah yang berlawanan. Si pengangon bebek berjalan kearah sawah dan menggiring puluhan bebek. Si penjual jamu berjalan kearah gerbang desa untuk menemui para pelanggan setianya yang telah menunggu

Comments